Kamis, 28 Maret 2013

laporan dasgron sarana produksi


LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM DASAR – DASAR AGRONOMI
SARANA PRODUKSI
Oleh:
DOMINGGOS MARTHURIA MANALU
05111001066



Description: C:\Users\Win7\Downloads\unsri.jpg







PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I.  PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam suatu sektor pertanian, terutama dalam pembudidayaan tanaman-tanaman disuatu daerah hal yang harus diperhatikan sarana produksi pertanian termasuk pada salah satu subsistem agribisnis yaitu subsistem agribisnis yakni : kegiatan industri dan perdagangan yang menghasilkan sarana produksi pertanian (arti luas) yakni pembenihan (pembibitan) tumbuhan, ikan dan hewan, dan makhluk hidup lainnya. Sarana produksi merupakan bahan yang sangat menentukan didalam budidayaa tanaman. Pada suatu wilayah tertentu sarana yang ada hubungannya langsung dengan pertumbuhan tanaman dilapangan adalah benih/ bibit, pupuk, bahan kimia pengendali musuh tanaman/ perangsang tumbuh tanaman adan alat-alat pertanian.
Pupuk merupakan saran produksi dalam meningkatkan produksi tanaman dan mempertahankan produktifitas tanah. Pupuk dapat berupa pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk anorganik biasanya bibuat oleh manusia dipabrik melalui suatu proses tersebut. Beberapa pupuk buatan yang banyak digunakan adalah UREA, TSP, KCL, ZA, dl. Pupuk organik adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau, dan guano. Sekarang ini sudah umum digunakan pupuk cair melalui daun. Benih atau bibit merupakan sarana pokok dan utama didalam budidaya tanaman. Dengan benih atau bibit yang baik akan memberikan pertumbuhan tanaman yang baik juga dan produksi yang tinggi.

Unsur sarana produksi yakni : Benih atau bibit, pupuk, inokulan, pestisida, ZPT, serta alat pertanian lainnya. Inokulan adalah bahan yang mengandung materi bakteri atau jamur yang dapat bersimbiosis dengan tanaman dalam tubuhnya. Contohnya : legin, rizogen. Pestisida adalah senyama kimia yang digunakan untuk mengendalikan pengganggu tumbuhan. Contoh :herbisida (mengendalikan gulma), insektisida (mengendalikan  serangga), rodentisida (mengendalikan tikus), nematisida (mengendalikan nematoda), bakterisida(mengendalikan bakteri), dan lain sebagainya. Penggunaan pesstisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui berbagai macam jenis, bentuk kegunaan dan informasi lainnya tentang sarana produksi yang digunakan pada pertanian.










II.  TINJAUAN PUSTAKA
  1. Tinjauan Umum Sarana Produksi
Lahan pertanian dan keterbatasan air merupakan fenomena dasar dalam suatu pengembangan pertanian tanaman pangan. Lahan pertanian yang ada terus mengalami penyusutan, karena tergeser oleh aktivitas non pertanian. Di samping itu permasalahan produksi, pascapanen, distribusi, dan pemasaran masih sering terjadi akibat lemahnya dukungan sarana dan prasarana pertanian, sehingga kurang berhasil mewujudkan sistem agribisnis yang baik yang pada gilirannya gagal menaikkan pendapatan petani. Oleh karena itu, dukungan sarana dan prasarana pertanian perlu untuk dikembangkan dalam suatu rancang bangun pengembangan pertanian tanaman pangan yang komprehensif (Jaenudin 2006)
Infrastruktur pada dasarnya adalah faktor pendukung bagi kegiatan utama di pedesaan yang berdasar kepada komoditas pertanian. Infrastruktur mampu menggerakkan sektor riil, menyerap tenaga kerja, meningkatkan konsumsi masyarakat dan pemerintah, serta memicu kegiatan produksi. Ketidakmampuan memberikan pelayanan infrastruktur merupakan indikasi kemampuan pemerintah yang semakin terbatas dalam kapasitas pembiayaan. Infrastruktur tidak hanya terbatas pada prasarana dan sarana fisik saja, melainkan mempunyai fungsi yang lebih penting lagi yaitu fungsi jasa pelayanan. Dalam hal ini jasa pelayanan mempunyai tiga dimensi penting yaitu dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Infrastrukur dapat dikategorikan menjadi dua bagian:
1) infrastruktur yang bersifat software seperti: kebijaksanaan, kelembagaan, regulasi,   keuangan, penelitian dan pengembangan, pendidikan, tata ruang, dan lain-lain; serta
2) infrastruktur yang bersifat hardware seperti : jalan, jembatan, irigasi, pasar, pelabuhan, jaringan listrik, telepon, dan lain sebagainya (Tambajong 2009)
Irigasi merupakan prasarana untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian. Jaringan irigasi merupakan prasarana irigasi yang terdiri atas bangunan dan saluran air beserta perlengkapannya. Sistem jaringan irigasi dapat dibedakan antara jaringan irigasi utama dan jaringan irigasi tersier. Jaringan irigasi utama meliputi bangunan – bangunan utama yang dilengkapi dengan saluran pembawa, saluran pembuang. dan bangunan pengukur. Jaringan irigasi tersier merupakan jaringan irigasi di petak tersier, beserta bangunan pelengkap lainnya yang terdapat di petak tersier (Kartasapoetra 1991).
Menurut Hansen et al (1977) irigasi didefinisikan sebagai pemberian air ke tanah untuk tujuan meningkatkan kelembaban tanah yang penting bagi tanaman. 7 Selanjutnya untuk pengertian yang lebih luas irigasi dilakukan untuk tujuan ;
a) menambahkan air ke lahan/tanah untuk meningkatkan kelembaban tanah yang
esensial bagi tanaman,
b) untuk melindungi tanaman dari kekurangan air,
c) untuk mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga tanah lebih sesuai bagi tanaman untuk tumbuh,
d) untuk mengurangi akibat dari pembekuan es,
e) untuk pencucian garam-garam dari tanah,
 f) untuk mengurangi pengikisan tanah,
g) untuk memudahkan pengolahan tanah dan
h) untuk mengurangi pembentukan debu melalui pendinginan oleh evaporasi.
Sumber daya air adalah salah satu unsur yang harus disediakan dalam strategi pembangunan dan pengembangan pertanian. Dalam usaha budidaya tanaman faktor ketersediaan air harus dipertimbangkan agar terhindar dari resiko kegagalan panen, air akan berfungsi memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi tanaman dan juga berperan dalam proses fisiologi tanaman (Nusa, 1991).
Menurut Ahmad (2003) air terbatas menurut waktu, tempat dan jumlah air yang tersedia diatas permukaan bumi, untuk itu perlu diusahakan penyediaan air yang cukup agar tidak menimbulkan kekurangan air.
            Menurut Nusa (1991) sistem irigasi dapat diartikan sebagai satu kesatuan yang tersusun dari berbagai komponen, menyangkut upaya penyediaan, pembagian, pengelolaan dan pengaturan air dalam rangka meningkatkan produksi pertanian. Beberapa komponen dalam sistem irigasi diantaranya adalah :
a) siklus hidrologi (iklim, air atmosferik, air permukaan, air bawah pemukaan)
b) kondisi fisik dan kimiawi (topografi, infrastruktur, sifat fisik dan kimiawi lahan)
c) kondisi biologis tanaman
d) aktivitas manusia (teknologi, sosial, budaya, ekonomi).
Efisiensi irigasi adalah angka perbandingan dari jumlah air irigasi nyata (distribusi dan aplikasi) yang terpakai untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman dengan jumlah air yang keluar dari pintu pengambilan (intake).
 Efisiensi irigasi 8 merupakan faktor penentu utama dari unjuk kerja suatu sistem jaringan irigasi. Efisiensi irigasi terdiri atas efisiensi pengaliran yang pada umumnya terjadi di jaringan utama dan efisiensi di jaringan sekunder yaitu dari bangunan pembagi sampai petak sawah. Efisiensi irigasi didasarkan asumsi sebagian dari jumlah air yang diambil akan hilang baik di saluran maupun di petak sawah. Kehilangan air yang diperhitungkan untuk operasi irigasi meliputi kehilangan air di tingkat tersier, sekunder dan primer. Besarnya masing-masing kehilangan air tersebut dipengaruhi oleh panjang saluran, luas permukaan saluran, keliling basah saluran dan kedudukan air tanah (PU 1986).
Untuk peningkatan efisiensi irigasi dibutuhkan perbaikan sistem pengelolaan irigasi dalam semua level bukan hanya ditingkat akuisisi, distribusi maupun drainase tetapi juga tingkat usahatani. Kesemuanya itu membutuhkan perbaikan secara simultan dalam aspek teknis di bidang irigasi maupun usahatani, peningkatan kapasitas pembiayaan dan penyempurnaan sistem kelembagaan dalam pengelolaan irigasi (Sumaryanto 2007).
Selama ini keberpihakan pada kegiatan penanganan pascapanen (pengolahan) gabah/beras masih tertinggal apabila dibandingkan dengan kegiatan pra panen atau budidaya. Oleh karena itu, diharapkan adanya suatu kebijakan nasional yang ditetapkan untuk meningkatkan partisipasi dari semua pihak (stakeholder) guna menangani masalah pascapanen (pengolahan) gabah/beras secara menyeluruh dan berkesinambungan. Kegiatan penanganan pascapanen di Indonesia mulai diwujudkan sejak peringatan Hari Pangan Sedunia, tanggal 16 Oktober 1982, dimana Menteri Pertanian mencanangkan Gerakan Penyelamatan Produksi Pangan melalui usaha-usaha perbaikan penanganan pascapanen dan pengolahan di tingkat petani pedesaan. Gerakan tersebut selanjutnya diikuti dengan diterbitkannya beberapa kebijakan pemerintah, baik dalam bentuk Keppres No. 47 tahun 1986 maupun berupa peraturan-peraturan penyediaan sarana dan prasarana pascapanen terrnasuk pendidikan dan pelatihan serta koordinasi antar instansi terkait. Kekuatan hukum yang lain dalam penanganan pascapanen tertuang pada Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang "Sistem Budidaya Tanaman". Dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan tujuan panen dan pascapanen yang 9 mencakup
(a) menekan tingkat kehilangan dan atau kerusakan,
(b) meningkatkan mutu,
(c) memperpanjang daya simpan,
(d) meningkatkan daya guna, dan
(e) nilai tambah serta daya saing (Damardjati 2006).
Terkait dengan kegiatan pascapanen upaya diarahkan terutama dalam upaya peningkatan nilai tambah melalui penerapan teknologi yang tepat untuk mengurangi susut pascapanen, peningkatan mutu, dan peningkatan efisiensi pengolahan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan produksi dan harga jual yang berimplikasi pada peningkatan kehidupan sosial dan ekonomi petani dan masyarakat umumnya. Disini juga diperlukan kebijakan pemerintah agar nilai tambah dalam pascapanen ini dapat dinikmati oleh petani. Hasil samping penggilingan padi selama ini belum mendapatkan perhatian yang memadai, padahal pemanfaatan hasil samping pengolahan padi dan beras dapat memberikan keuntungan ekonomis dan ekologis. Menir dapat diolah menjadi tepung beras sedangkan dedak dapat diolah menjadi minyak dedak. Sekam dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi panas, bahan campuran di industri batu bata, pakan ternak atau biogas (Purwadaria 2004).
Rice Processing complex (RPC) adalah suatu kawasan sistem pengolahan padi yang terdiri dari sub sistem pengeringan, sub sistem penyimpanan, sub sistem penggilingan dan sub sistem pengemasan yang terintegrasi dalam satu lini proses menggunakan mesin modern. Konsep RPC sebenarnya adalah penyempurnaan dari sistem rice milling yang dilengkapi dengan sistem pengeringan, penyimpanan dan pengemasan.
            Konsep ini sebetulnya dikembangkan dalam rangka mengontrol seluruh alur proses pengolahan padi dalam suatu sistem terintegrasi, sehingga mutu produk dapat terjaga keseragamannya serta secara nyata mengurangi susut bobot. Penggunaan sistem RPC ini secara umum diproyeksikan untuk dapat meningkatkan daya saing beras yang dihasilkan melalui mutu dan harga. Hal tersebut dapat dicapai karena RPC dapat memperbaiki efisiensi pengolahan padi melalui :
a) Perbaikan mutu beras Dengan mengontrol bahan baku yang masuk dan pengontrolan secara ketat selama proses pengolahan maka akan dapat diproduksi beras dengan mutu prima. Tentu ini masih tergantung dari kualitas bahan baku padi yang diolah, 10sehingga penerapan RPC juga harus diikuti oleh perbaikan sistem budidaya dan pemilihan varietas padi yang baik.
b) Peningkatan rendemen pengolahan  Dengan sistem pengolahan menggunakan mesin modern, maka semua bagian/sub sistem dapat dikontrol dengan baik sehingga dapat mengurangi susut secara signifikan.

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.    Tempat dan Waktu
            Pelaksanaan praktikum mengenai sarana produksi dilaksanakan pada tanggal 20 maret 2013,yang dilalkukan di ruangan laboratorium ekologi Universitas Sriwijaya Indralaya Sumatera Selatan.

B.     Alat dan Bahan
        Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum sarana produksi  adalah pensil . bolpoin dan penghapus.

C.    Metode Praktikum / Cara Kerja
        Adapun cara kerja dari praktikum mengenai sarana produksi adalah sebagai berikut yang pertama adalah kita mencatat macam-macam yang berhubungan dengan sarana produksi digunakan didalam pertanian modul praktikum beserta fungsinya masing-masing. Lalu kita menggambar sarana produksi tersebut beserta bagian bagiannya dengan lengkap dan zat zat yang digunakan.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
1.Benih
a. Berdasarkan posisi tumbuh
Jenis
Gambar
Keterangan
Contoh tanaman
Hypogeal
http://4.bp.blogspot.com/-F3jswJCwBXE/T1T2RLT8Z0I/AAAAAAAAAIM/G5Q9UhbFhLA/s200/hipo.JPG

Kotiledon dari biji tetap berada ditanah
  1. Kacang tanah
  2. Kacang panjang
Epigela
http://4.bp.blogspot.com/-pG40AzwHRdA/T1T2HN1YlfI/AAAAAAAAAIE/g8UHSGGZK3Y/s1600/epi.JPG

Kotiledon pada biji ikut terangkat ke atas
  1. Kelapa
  2. Mangga







b. Berdasarkan jumlah keping
Jenis
Gambar
Keterangan
Contoh tanaman
Monokotil

Pada benih berkeping satu embrio terdiri dari kotiledon,endosperm,merupakan bagian yang besar
  1. Jagung
  2. Kelapa
  3. Pinang
Dikotil

Pada benih berkeping dua, embrio terdiri dari kotiledon dan epikotil
  1. Kacang tanag
  2. Mangga
  3. Alpukat

c. Berdasarkan jenisnya
Jenis
Pengertian
Contoh
Orthodoks
Benih yang dapat disimpan dalam waktu yang lama apabila kadar airnya diturunkan
1.kedelai
2.anggur
3.padi
4.cabe
5.jagung
6.kacang panjang
7.kentang
Rekalsitran
Benih yang tidak dapat disimpan dalam waktu yang lama walaupun kadar airnya diturunkan
1.karet
2.sawit
3.kopi
4.durian
5.kakao
6.duku
7.manggis


2.Pupuk
A .Berdasarkan Pembutannya
Jenis
Pengertian
Contoh
Organik
pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman,hewan atau manusia.
1. Pupuk kandang
2. Pupuk hijau
3. Kompos
an Organik
Pupuk yang hasil proses rekayasa secara kimia fisik dan biolgis dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuatan 
1. KCl
2. TSP
3. NPK
4.Urea
5. MPK,Pusri




B .Berdasarkan Unsur Haranya
Jenis
Pengertian
Contoh
Pupuk Tunggal
Pupuk yang hanya mengandung 1 macam unsur hara
1. Z.A
2. TSP
3. ZK
4. DS
Pupuk Majemuk
pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur
1. DAP
2. NPK
3. NPK

C. berdasarkan bentuknya
Jenis
Defenisi
Contoh
Padat
Pupuk yang berbentuk butiran butiran yang bervariasi yang digunakan untuk atau dengan cara menabur
  1. Urea
  2. Mpk
  3. Kcl
Cair
Pupuk yang berbentuk cairan yang digunakan dengan cara menyemprot
  1. Score
  2. Amistar top
  3. Regent cair





3.ZPT( Zat Pengatur Tumbuh)
Jenis
Fungsi
Contoh
Auksin
1.Merangsang dominasi apikal
2.merangsang pembentukan bunga,perkembangan bunga,dan akar adventif
3.menghambat pertumbuhan tunas samping
4.mengatur pembesaran sel
5.mencegah rontoknya daun,bunga,dan buah
1. Asam idoiasetat /IAA


Giberelin
1.Memacu pertumbuhan buah tanpa biji
2.menyebabkan tanaman mengalami pertumbuhan raksasa
3.menyebabkan tanaman berbunga sebelum waktunya
4.memacu pertumbuhan kambium pada tanaman dikotil
5.mematahkan darmansi buah dan biji
1. hormone pertumbuhan


Sitokinin
1.memacu pembelahan sel
2.mempercepat pelebaran daun
3.mempercepat tumbuhnya akar
4.memacu pertunasan lateral pada pucuk batang
5.menunda pengguguran daun,bunga,dan buah
1. Kinetin


Etilen
1.mempercepat pemasakan buah
2.menyebabkan penebalan batang
3.memacu pembungaan
4.mempercepat pertumbuhan kecambah
5.mempercepat kematangan buah
1. Etephon
2. Protephon


Asam absisat
1.membantu peluruhan daun pada musim kering
2.menghambat pemanjangan dan pembelahan sel
3.merangsang penutupan mulut daun pada musim kering
4.menghambat pertubuhan tumbuhan
5.membantu tumbuhan  mengatasi dan bertahan pada masa dormansi
1. Paclobutrazol
2. Ancymidol
3. TIBA dan CCC



  1. Pestisida
Pestisida
Bentuk
Sasaran
Cara aplikasi
Rodentisida
Serbuk
Tikus
Semprot
Insektisida
Cair
Serangga
Semprot
Herbisida
Cair
Gulma/rumput
Semprot
Nematisida
Butiran/Cair
Hama cacing
Diletakkan dekat tanaman
Fungisida
Cair
Jamur
Semprot
Moluskusida
Cair
Siput
Semprot
Larvasida
Cair
Larva
Semprot
Mitisida
Cair
Rayap
Semprot
Akarisida
Emulsi/padatan
Tungau
Semprot
Bakterisida
Cair
Bakteri
Semprot

5. Alat dan Mesin Pertanian
A. Tradisional
Nama
Fungsi
Gambar
Cangkul
Mengolah dan menggali tanah

Parang
Memotong gulma

Sabit
Untuk memanen padi

Bajak
Untuk mengolah tanah

Garu
Untuk meratakan,mengangkat padi



B . mesin pertanian
Nama
Fungsi
Gambar
Traktor
Untuk mengolah tanah

Mesin pemanen
Untuk memanen yang berbentuk biji bijian

Mesin perontok
Untuk merontokkan padi

Mesin penyemprot
Untuk menyemprot hama dan juga vitamin tanaman

Hand traktor
Untuk mengolah tanah

  1.  
  2. PEMBAHASAN
                Usaha – usaha produksi di lapangan bertujuan memberikan kondisi yang paling optimum untuk pertumbuhan tanaman sehingga tanaman memberikan hasil yang maksimum. Usaha pengelolaan tanah merupakan kegiatan untuk memberikan daerah perakaran mempunyai derasi dan drainase yang baik dan yang memungkinkan untuk tanaman tumbuh normal. Untuk pengelolaan tanah diperlukan peralatan yang memadai. Pada umumnya pengelolaan dilakukan dengan cangkul dan bajak. Untuk bajak diperlukan peralatan bajak dan garu. Pola pertanian yang agak maju, menggunakan jasa ternak untuk membantu usaha pengelolaan tanah. Pada pertanian modern pengelolaan tanah dilakukan dengan traktor yang dilengkapi berbagai tipe bajak dan garu. Selain alat pengelolaan tanah juga diperlukan alat tanam dari yang sederhana sampai kepada yang lebih modern (dengan traktor ). Disamping peralatan untuk mengolah tanah dan tanam juga diperlukan alat-alat pemupukan, alat penyemprotan untuk bahan kimia dan alat panen.
Selain benda yang diperlukan didalam agronomi juga jasa berupa teknologi prapanen dan teknologi pascapanen. Teknologi prapanen berupa teknologi budidaya dilapangan untuk mencapai produksi maksimum. Teknologi pascapanen adalah teknologi untuk meningkatka nilai tambah hasil panen dan mengurangi kehilangan sesudah panen serta bahan tersebut dapat tahan lama disimpan. Dengan teknologi ini dapat memperluas pemasaran hasil pertanian sebagai salah satu sektor perekonomian adalah penerapan akal dan karya manusia melalui pengendalian proses produksi biologis tumbuhan dan hewan, sehingga tumbuhan dan hewan tersebut lebih bermanfaat. Sarana produksi merupakan salah satu bahan yang sangat menentukan didalam budidaya tanaman, pada suatu wilayah tertentu sarana yang ada hubungannya langsung dengan pertumbuhan tanaman di lapangan adalah benih atau bibit, pupuk, bahan kimia pengendali musuh tanaman atau perangsang tumbuh tanaman dan alat-alat pertanian. Usaha – usaha produksi dilapangan bertujuan memberikan kondisi yang paling optimum. Pada dekade terakhir ini segala upaya telah dicoba supaya semua tanaman pertanian memberikan hasil maksimum. Ini terlihat dari beragamnya sarana penunjang pertanian baik berupa pupuk, pengelolaan tanah, pemberantas penyakit dan zat-zat perangsang. Sarana produksi terdiri dari bahan yang meliputi benih, pupuk, pestisida, ZPT dan obat-obatan yang digunakan untuk melaksanakanproses produksi peranian. Benih adalah biji yang digunakan untuk perbanyakan tanaman untuk tujuan penanaman.
         Pupuk adalah bahan yang mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengatur zat tumbuh adalah senyawa kimia yang yang bisa digunakan untuk merangsang pembungaan dan pembuahan, merangsang pertumbuhan vegetatif, mematikan cabang yang tidak dikehendaki. Pestisida adalah alat kimia yang beracun untuk pengendalian musuh-musuh tanaman. Berdasarkan kegunaannya pestisida dapat dibagi kedalam beberapa jenis yaitu : insektisida, herbisida, akarisida, rodentisida, fungisida, bakterisida, dan nematisida. Inokulan adalah bakteri yang dinokulasi atau kembangbiakan ketanaman baru. Inokulan terjadi pada kebanyakan budidaya tanaman leguminosa yang memerlukan inokulasi bakteri rhizobium. Mekanisme kerjasama antara bakteri rhizobium dan tanaman legum dalam bentuk simbiosis mutualisme, yaitu simbiosis saling menguntungkan dimana bakteri menjadi unsur C dari tanaman sebagai sumber energi bakteri dan tanaman mendapatkan N dari bakteri karena bakteri mampu memfikasi N2 dari udara. Inokulan rhizobium digunakan untuk penanaman leguminosa ditanah untuk pertama kalinya. Alat-alat pertanian adalah alat-alat yang digunakan pada saat melakukan bercocok tanam dan menghasilkan produksi tanaman agar menghasilkan panen yang berkualitas.



















V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sarana produksi pertanian terdiri atas bahan yang meliputi benih, pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh dan lain-lain
2. Bahwasannya sangat dibutuhkan sarana produksi untuk meningkatkan hasil produksi se-optimal mungkin.
3. Benih merupakan komponen agronomi, dan komponenen penting di dalam pengelolaan lapang produksi sebagai komponen agronomi.
4. Penggunaan pestisida dalam pertanian telah menunjukan kemampuannya didalam  menanggulangi atau mengurangi merosotnya hasil akibat serangan hama dan penyakit.
5. Penggunaan zat pengatur tumbuh dapat menghemat biaya produksi karena digunakan dalam taksiran (dosis) rendah.

B. Saran
Agar lebih teliti dalam menggunakan sarana produksi yang ada dengan menggunakan dosis tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan tumbuhannya agar memperoleh hasil produksi yang tinggi dan bagus.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim.Sarana Produksi . http://www.wikipedia.org/ (diakses tanggal 20 Maret 2013)
Anonim. Jenis-Jenis Pupuk. http://razzakoke.blog.com/?.(diakses pada 20 maret 2013)
Harjadi, Sri  Setyati. 2002.  Pengantar  Agronomi.  PT. Gramedia  Pustaka  Utama : Jakarta.
Karta Saepotra, G. Ance. 1986. Teknologi Benih. Jakarta : Rineka Cipta
Haryanto, Eko,  Tina  Suhartini,  Estu Rahayu. 2005. Budi  Daya  Kacang  Panjang.          Penebar Swadaya : Jakarta.
Marsono,  Paulus Sigit. 2001. Pupuk Akar, Jenis  dan  Aplikasi. Penebar  Swadaya : Jakarta.
Sutejo, Mul Mulyani. 1988. Pupuk dan Cara Pemupukan. PT. Bina Aksara : Jakarta.
Sjamsoe. M.Mui. 1995. Dari Benih kepada Benih. Jakarta : PT. Gramedia
Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar